
Tamu terakhir. Kutengokkan kepala ke kanan. Suami. Kutengokkan kepala ke kiri. Mertua. Kutatap lurus ke depan. Orang-orang menuju pintu keluar, beberapa masih mengantri prasmanan. Lampu sorot tepat ke muka dan sebuah kamera membidik tepat ke mata. Seorang ibu sibuk memanggil teman-teman SMP, SMA, kuliah dan rekan kerja lewat pengeras suara. Kutundukkan kepala. Kebaya putih, penuh manik-manik dan bordir. Kuangkat kepala lagi. Orang-orang mengambil bunga dekorasi, padahal sang mempelai belum lagi pergi.
"Senyum semuaaa," sebuah suara memecah lamunan.
***
Domba terakhir. Sudah sampai hitungan ke 759 dan belum juga bisa memejam. Kutengokkan kepala ke kanan. Suami. Kutengokkan kepala ke kiri. Syukurlah, tidak ada mertua. Kutengokkan lagi kepalaku ke kanan. Suami tertidur pulas. Kuperhatikan wajahnya. Enam bulan bukan waktu yang cukup lama untuk sungguh-sungguh mengenal seseorang. Tapi aku kenal mata itu. Kedua mata yang sedang memejam itu. Dan aku kenal bibir itu. Bibir yang, entah kenapa, sedang tersenyum. Mimpi apa dia? Entah. Banyak yang aku tidak tahu. Paling tidak aku tahu ia mencintaiku. Mungkin.
Tahi lalat terakhir. Setelah domba, aku putuskan untuk menghitung tahi lalat yang ada di sekujur punggung lelaki yang sedang tertidur di sebelah kananku. Tujuh, dan aku belum juga bisa terpejam. Kutengokkan kepala ke kiri. Sebuah jam meja dengan ornamen bunga-bunga. Sangat feminin. Pukul 02.30. Kenapa aku tidak bisa tidur? Padahal tadi kami bercinta dengan gila-gilaan. Ups, salah. Suamiku bercinta dengan gila-gilaan. Istrinya? Bohong-bohongan. Sedikit.
"Uughh...."
Selusin.
"Hmmmpphh...."
Beberapa cakaran di punggung, dan tentunya diakhiri teriakan pamungkas, "AAAAAGGHHH...."
Dengan efek fading away. Menghindari efek echo, supaya kelihatan alami dan tidak terlalu dibuat-buat.
Tadi aku kelelahan. Seharian memakai hak tinggi, korset yang menyesakkan, kain yang membebat, rambut penuh hair spray (selalu membuatku sakit kepala) dan senyum manis (entah memang milikku atau tempelan dari sang make-up artis), sangatlah melelahkan. Entah kenapa kini aku tidak bisa terlelap. Menghitung apa lagi, ya? Tidak mungkin aku menghitung uang dari peti amplop sekarang, saat suami masih tertidur. Tidak sopan. Lagipula, kurang kerjaan!
Kurang kerjaan. Kerja. Suamiku memintaku berhenti bekerja. Tapi bukan sekarang.
"Aku pingin kamu di rumah saja, mengurus anak kita," ujarnya di awal mula perencanaan pernikahan kami.
Itu terjadi kurang lebih satu setengah bulan yang lalu. Asumsiku: mengurus anak sama dengan ada anak, sama dengan nanti. Jadi aku akan tetap bekerja dulu. Aku suka pekerjaanku. Tepatnya, aku suka gajiku. Lagipula, apa yang akan aku lakukan kalau nanti dia pergi bekerja? Sendirian saja di rumah? Pasti sangat membosankan.
***
Bunga terakhir. Empat puluh delapan. Setelah domba dan tahi lalat, kini motif bunga di atas bantal juga sudah habis kuhitung. Satu-satunya bunga yang kusuka hanya sedap malam. Ada seorang lelaki masa lalu yang suka memberiku bunga sedap malam. Kadang diikatnya beberapa tangkai sedap malam dengan pita berwarna putih, kadang ia memberikan sebuah stoples yang penuh berisi bunga itu.
"Pengharum kamar," katanya.
Entah di mana dia sekarang. Tidak pernah mengajakku pacaran, hanya suka memberiku bunga. Manis sekali. Lelaki yang kini sudah jadi suamiku tidak pernah memberiku sedap malam. Ia pernah memberiku mawar. Warna kuning. Pilihan yang aneh.
Seorang sahabat kemudian berkomentar, "Mawar kuning hanya diberikan untuk nenek yang sedang sakit."
Saat itu aku sedang tidak sakit dan bukan seorang nenek, karena usiaku masih enam bulan lebih muda dari hari ini.
Sedap malam terakhir. Kenapa aku suka sedap malam? Satu, wanginya luar biasa. Dua, aku suka namanya. Saat bunga-bunga lain hanya mendapat satu nama, bunga ini mendapat dua! Sedap dan Malam. Ia punya nama panjang. Dan nama itu memunculkan imajinasi yang begitu indah. Malam yang sedap pasti bertabur bintang, dengan bulan yang purnama dan kunang-kunang menari kegirangan diiringi suara jangkrik. Aku pernah punya malam yang sedap. Hanya sekali dalam seumur hidupku. Bintang, bulan, kunang-kunang, jangkrik dan... satu-satunya lelaki yang membuatku bercinta dengan gila, tanpa setitik pun kebohongan, hadir membuat malamku lebih sedap daripada bunga apapun. Ia pergi keesokan paginya. Tak pernah kembali dan membuat malam itu jadi legenda. Hilang. Ditelan bumi. Ah, seharusnya setiap orang pernah mengalami malam sesedap itu, walau hanya satu kali.
Lelaki di sebelah kananku bergerak. Memutar badannya ke kanan dan kini memunggungiku. Semoga ini tidak terjadi kalau dia tidak tertidur. Memunggungiku. Tidak enak bicara pada punggung. Hanya begitu saja ekspresinya. Aku tahu itu karena ibu sering menghambur masuk ke kamarku sambil menangis dan mengadu.
"Ayahmu pergi lagi! Padahal ibu lagi ngomong! Ibu capek ngomong sama punggung."
Sudah kurang lebih duapuluh tahun terakhir ibu kecapekan. Punggung ayah sih tidak. Masih baik-baik saja. Tiap hari masih kuat bikin ibu capek. Capek, tapi pantang menyerah. Setiap saat ibu terus mencoba bicara pada apapun yang ada di balik punggung. Mungkin berharap di balik punggung masih ada hati. Seperti tigapuluh tahun yang lalu.
Dentangan terakhir. Tiga kali. Jam besar milik kakek dari lelaki yang ada di sebelah kananku tentu tepat waktu. Pukul 03.00. Kini lelaki di sebelah ku mulai mendengkur. Aku baru tahu kalau dia mendengkur. Semoga tak bertambah kencang.
Grrroookkkk....
"Cinta...."
Grrrroookkkk....
"Tidak...."
Grrrrrookkkk....
"Cinta...."
Grrrrookkkk....
"Tidak...."
Kuputuskan untuk memperlakukan bunyi yang keluar dari lelaki ini seperti bunyi tokek. Bukan untung-rugi, tapi cinta-tidak. Mungkin aku akan dapat jawaban. Heran, pertanyaan begitu saja kok mesti aku hitung dengan dengkuran? Tapi biarlah, aku butuh sesuatu yang membuatku bosan lalu terlelap. Tapi... lho, kok berhenti? Tidak? Jawabannya TIDAK? Ia tidak mencintaiku? Ibu salah. Atau lelaki di sebelah kananku yang salah?
"Ayo bunyi lagi," harapku dalam hati.
Tidak ada suara.
"Ayooo...." Kini kuucapkan sambil menatap ke wajahnya.
"GRROOOKKKK!" Suara yang melegakan.
Cinta.
Mungkin.
***
Cinta terakhir. Kutengokkan kepala ke kanan. Bukan dia. Dia hanya suami. Kutengokkan kepala ke kiri. Berharap menemukan wajah tampan yang kuharapkan. Tapi ia sudah menghilang. Ditelan bumi. Sudah terlalu lama, dan sekarang bukan saat yang tepat untuk mengingatnya. Tapi saat lelaki di sebelah kanan MUNGKIN mencintaiku, lelaki tampan yang tidak ada di sebelah kiri SANGAT mencintaiku. Cinta tidak harus memiliki. Kalimat paling menyebalkan yang dua tahun lalu jadi makananku setiap hari. Ibu, ayah, sahabat, bibi sampai peramal kartu tarot, semua hanya bilang, "Cinta tak harus memiliki". Memang tak harus, tapi aku ingin. Sungguh-sungguh ingin. Tapi si Tampan yang tidak ada di sebelah kiri memilih untuk pergi. Dengan sepatu lars dan topi baret ia membela perdamaian, atas nama ibu pertiwi. Mari angkat topi, karena ia tidak kembali. Kini atau nanti.
Mataku mulai terasa berat dan sepat. Ngilu itu terasa lagi. Sial, pantas saja mataku berat. Mereka juga sembab. Kutengokkan kepala ke kanan. Masih punggung. Paling tidak ia tidak melihat airmata yang mengalir turun. Mungkin sebaiknya lain kali ibu jangan mengadu padaku saat ayah memberi punggung. Mungkin punggung itu butuh airmata. Mungkin hati di balik punggung akan mendengar dan mungkin membuatnya terdorong untuk kembali berhadap muka dengan perempuan yang tidak pernah berhenti memujanya selama tigapuluh tahun. Mungkin.
Lelaki terakhir. Kukecup lembut rambut lelaki di sebelah kananku. Tetes terakhir. Cukup. Kuseka airmata. Kamar pengantin ini begitu wangi. Melati, bukan sedap malam. Mungkin aku harus puas dengan melati. Atau mawar kuning. Kupandangi cincin di jari manisku. Paling tidak ia mencintaiku. Paling tidak ia tidak akan memunggungiku. Mungkin. Kini aku harus puas dengan "mungkin". Mungkin aku akan belajar mencintainya dan mungkin aku akan menangis jika suatu hari ia memunggungiku. Mungkin aku akan berhenti bekerja dan mengorbankan seluruh kehidupanku. Tapi bukan karena lelaki di sebelah kananku memintanya.
Tidak. Tidak akan pernah karena dia, tapi karena kamu. Belahan jiwaku. Ya, aku ingin melakukannya untuk kamu. Kamu yang enam bulan lagi akan jadi bagian terindah dari duniaku dan (mungkin) lelaki di sebelah kananku. Kamu yang suatu hari nanti akan merasakan malam yang sedap. Kamu yang tak akan pernah aku punggungi. Kamu yang akan selalu kulindungi. Walau sesekali aku akan kecolongan karena dunia mencurangiku, dan oleh karenanya akan kamu rasakan patah hati, tapi tak mengapa, pada akhirnya kamu akan temui yang sejati. Pasti. Dan bila itu terjadi, aku akan rasakan bahagia, lebih dari semua perempuan yang terberkati.
Keinginan terakhir. Untuk malam ini, paling tidak. Aku ingin bisa mendekapmu, mungil. Sungguh, kamu satu-satunya yang aku nanti. Sampai jumpa enam bulan lagi, Nak!
Kita akan buat dunia ini kembali penuh warna-warni. ©
(Congratulations, sahabatku tersayang.... Selamat datang, mungil....)
|
BIODATA PENULIS
|
MEDIA PARTNERS
Nama saya, Andini Haryani. Saya lahir di Jakarta, 7 Desember 1982. Selama ini, saya tidak pernah memiliki cerita pendek atau puisi yang diterbitkan di media massa kecuali www.cafenovel.com. Selama ini pula, saya hanya berani membagi karya-karya dengan orang-orang terdekat atau di dalam blog pribadi yang juga hanya ditujukan bagi kepuasan diri sendiri. Di tahun 2005-2006 saya bekerja sebagai reporter bagi Majalah Tamasya, kemudian memutuskan untuk menjadi penulis lepas, baik untuk majalah atau kebutuhan korporat. Beberapa majalah yang pernah memuat tulisan saya adalah: Fashionbiz, iTuner, Agro Observer, Time Place, dan Gatra Living Plus. Saya mengagumi karya-karya Pramoedya Ananta Toer, tetapi merasa tidak memiliki cara bercerita yang sama. Pramoedya membuat saya ingin menulis dan tidak pernah berhenti membaca.










