Antara Ada dan Tiada

by Deni Danasenjaya



Siang hari makan di warung nasi,
biaya 10 ribu per paket
Malam harinya menghadiri dinner perjamuan resmi,
biaya 100 ribu per paket

Siang hari bahkan berhari-hari naik Toyota Fortuner
atau Ford Everest untuk urusan kantor
Hari Sabtu dan Minggu naik sepeda motor
(lagi-lagi pinjaman) untuk jalan-jalan pribadi

Hari ini menginap di hotel berbintang
dalam suatu acara seminar dan training di kota Medan atau Jakarta
Keesokan harinya harus rela tidur di rumah gubuk milik penduduk
bahkan tenda darurat yang seadanya di perkampungan

Hari ini ikut seminar nyaman di auditorium hotel berbintang,
di tengah kota, dengan paket coffee break dan lunch yang fantastis
(dengan ancaman naiknya gula darah dan kolesterol)
keesokan harinya ikut seminar di balai warga yang panas,
di tengah kampung kumuh, becek,
dengan hidangan kue kampung ala kadarnya
(ternyata sehat malah memenuhi unsur diet kalori)

Siang merasakan kemegahan gedung bertingkat tigapuluh
dengan pendingin suhu nyaman,
CCTV, fasilitas lift, dan interior yang luks,
di kawasan bisnis Segitiga Emas Sudirman
Malamnya merasakan kekumuhan kamar kost
di kawasan Karet Setiabudi yang pengap
dan tanpa pendingin udara,
dengan perabot ala anak kost seadanya

Lihatlah, betapa tipis batas ada dan tiada, bukan?
Untuk apa kita berjiwa oportunis (melebihi takaran)?
Untuk apa kita berjiwa ingin serba instan?
Untuk apa kita berjiwa koruptis?
Untuk apa kita sampai mengidap sindrom megalomania?
Untuk apa kita menipu dan memperdaya orang lain,
Tuhan kita, bahkan diri kita sendiri?

Saat kita sombong,
tak tahunya ada yang lebih sombong
Saat kita merasa paling hebat,
tak tahunya ada yang lebih hebat
Saat kita merasa miskin,
tak tahunya ada yang lebih miskin
Saat kita merasa tak berdaya,
tak tahunya ada yang lebih tidak berdaya

Itulah hakikat dari menerima takdir dan kenyataan
Tentunya tanpa melupakan hakikat ikhtiar dan kerja keras
Serta tetap berpegang teguh pada prinsip yang Anda yakini
Serta konsisten dalam setiap langkah
Selebihnya, biarkan takdir Yang Maha Kuasa bekerja untuk Anda

Karena jika sudah takdir-Nya menerima,
Anda pasti akan menerima
Yang penting, Anda lakukan segala hal yang Anda ingin lakukan
Jangan lupakan batasan-batasan yang ada
dan juga keterbatasan-keterbatasan kita
Jangan lupakan hakikat kita sebagai hamba-Nya yang lemah

Betapa kita harus belajar menerima kenyataan,
seindah dan seburuk apapun itu
Karena selalu ada hikmah di balik peristiwa....


(Nyanyian hati para pekerja kemanusiaan, sebuah himbauan moral kepada siapa saja yang selalu merasa lebih hebat padahal belum menjadi apa-apa, bahwa sebuah kesombongan dan keangkuhan tak memiliki makna apa-apa, karena kami pekerja kemanusiaan sering merasakan sendiri, langsung dan nyata dalam keseharian, begitu tipisnya batas antara ada dan tiada)



Nama saya, Deni Danasenjaya. Namun teman-teman lebih sering memanggil saya dengan Kang Deni, karena saya memang berdarah Sunda. Saya lahir 5 Desember 1969. Saat ini saya telah dianugerahi seorang putra bernama Muhammad Iqbal dan seorang putri bernama Najla Azizah dari pernikahan saya dengan istri tercinta, Aisyah Simatupang. Jujur, meski saya tidak muda lagi dan kini berusia 39, tetapi kegelisahan batin saya tetap memaksa saya untuk terus menulis menyuarakan nurani. Kegelisahan hati saya lebih pada aktualisasi diri terhadap proses interaksi sosial di negeri tercinta ini, demi melihat begitu banyak kejanggalan, kekurangan, dan entah apa lagi yang membuat hati saya tergerak untuk meletupkan gagasan yang biasanya dimiliki anak-anak muda yang menginginkan pembaharuan dan kesejahteraan negerinya. Dan Semuanya itu tetap mengalir dalam darah saya. Saat masih menetap di Surabaya, pada saat reformasi 1998, saya menjadi aktivis jalanan dari kelompok profesional dan pekerja muda. Kini semangat perubahan saya tetap menggelora, justru ketika menelan kekecewaan begitu mendalam terhadap beberapa teman aktivis yang saya kenal baik secara pribadi saat itu telah melenceng dari idealisme semula. Setelah memperoleh kesempatan masuk dalam lingkaran kekuasaan, mereka lupa diri dan malah berperilaku mirip dengan rezim yang mereka cemooh serta kritik saat pergerakan reformasi 1998 bergulir. Saya tak berminat masuk ke dalam sistem kekuasaan, menjadi politisi seperti teman-teman saya karena takut lupa diri seperti ikrar kami dahulu. Menjadi profesional di bidang saya adalah pilihan terbaik saat ini. Dan menulis, entah puisi atau novel bertemakan kritik sosial—yang sedang dalam proses penulisan saat ini, menjadi media penyampaian sikap oposisi dan kritik saya untuk perubahan yang lebih baik di negeri ini.


MEDIA PARTNERS


ADVERTISEMENT



Google

DONATION


Klik di Sini untuk Donasi
Click Here for Donation


WELCOME


Monday, 06 September 2010

Selamat datang di CafeNovel.com, Situs Sastra Populer Indonesia. Di sini Anda dapat membaca novel, cerpen, dan puisi secara online. CafeNovel.com merupakan situs sastra dan menampung tulisan nonhonor. Bagi yang memiliki bakat menulis atau mengarang, Anda dapat berpartisipasi menyumbangkan karya Anda di info@cafenovel.com. Terima kasih atas kunjungan Anda.


WRITE
YOUR
WORLD


Sebuah event dalam rangka antisipasi dan Stop Global Warming. Di sini Anda dapat mengemukakan pendapat atau keluhan tentang pemanasan global yang kian meresahkan. Lewat Write Your World suara Anda akan didengar oleh dunia, dan akan dijadikan referensi atau acuan bagi pengembangan dunia yang lebih baik. Kirim suara Anda ke info@cafenovel.com sebagai bagian dari bentuk kepedulian kita terhadap efek Global Warming.

MEDIA PARTNERS















OUR PARTNERS



cafenovel.multiply.com



www.cafenovel.com


myspace.com/cafenoveldotcom

www.cafenovel.hi5.com
cafenovel.wordpress.com