CafeNovel.com | UPAYA PENANGGULANGAN HIV-AIDS I

CafeNovel.com | Press Statement on the Visit of the Dr. Nafis Sadik

Dr. Nafis Sadik, the Special Advisor to the UN Secretary General and his Special Envoy for HIV/AIDS in Asia and the Pacific conducted an official visit to Indonesia from the 2-5 February and the 8th February 2008 ago. The Special Advisor thanks the government for its cooperation during her mission.
The purpose of the visit was to have discussions with senior government officials and others about the changing nature of the HIV epidemic in Indonesia, with an increasing number of new HIV infections coming from sexual transmission.
During the visit, the Special Envoy met with government officials, people living with HIV/AIDS, non-governmental organizations, representatives of the business community, and UN officials and staff members.
A highlight of the visit was a meeting with the First Lady and Indonesian HIV/AIDS Ambassador, HE Hj. Ani Susilo Bambang Yudhoyono. Ibu Ani welcomed Dr. Sadik to Indonesia, and briefed her about the existing HIV/AIDS programmes in Indonesia that support HIV prevention and treatment. Ibu Ani noted the experience of 'SMART' houses and cars, which provide young people and adults with essential information on HIV. Ibu Ani also spoke about her new role as HIV/AIDS Ambassador, and the work she has already undertaken in awareness raising, advocacy, and condom promotion.
In their discussion, Dr. Sadik noted the importance of responding to Indonesia's HIV epidemic while the numbers of Indonesians infected are still low. Reflecting on her experience in other Asian countries, Dr. Sadik noted that "If the situation gets much worse, it will be very difficult to control."
Dr. Sadik also invited Ibu Ani to the forthcoming 2008 High-Level Meeting on AIDS which will take place at the United Nations headquarters in New York on 10 - 11 June. It will review progress made in implementing the 2001 Declaration of Commitment on HIV/AIDS and the 2006 Political Declaration on HIV/AIDS. There will be meetings of senior representatives, including other First Ladies and HIV Ambassadors. Ibu Ani's participation in the meeting would give a high profile to the work of the Indonesian government in HIV, and also an opportunity to share Indonesia's experience in HIV programmes with the rest of the world.
Dr. Sadik also had discussions with HE Aburizal Bakrie, the Coordinating Minister for People's Welfare, HE Ibu Dr. Dr. Siti Fadilah Supari.Sp.JP (K), the Minister of Health, and HE Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, Minister for Women's Empowerment. These discussions noted the potential contribution of businesses and the private sector in HIV prevention, treatment, care and support. The importance of gender relations to HIV issues, and tackling the problem of gender-based violence were also discussed. The links between human rights, gender and HIV were also explored. And the work of the Ministry of Health in HIV prevention and treatment were also discussed.
Learning from Indonesia's very successful experience in promoting family planning, and applying these lessons to HIV programmes was the focus of discussions between Dr. Sugiri Syarief, Head of National Family Planning Board, and Dr. Sadik. Promoting sexual and reproductive health is a key concern of both HIV and family planning programmes, Dr. Sadik noted. "We need to work together to ensure that young people have the information and services they need to protect their sexual and reproductive health, including HIV prevention."
In a meeting with people living with HIV, Dr. Sadik heard about some of the achievements of Indonesia in providing ARVs and other drugs and treatments to those infected with HIV. She also heard about serious stigma and discrimination, and how this affects the lives of men and women living with the disease and their families.
In discussion with Ibu Nafsiah Mboi, Secretary of the National AIDS Commission, Dr. Sadik reinforced the commitment of the UN system to supporting the national HIV response in Indonesia. Dr. Sadik noted the considerable achievements of the past few years in Indonesia, including the Presidential Decree establishing the National AIDS Commission and Secretariat, the National HIV/AIDS Prevention and Control Strategy 2007-2010, and the Costed Action Plan. Indonesia has also just completed the periodic reporting to the UN on the UN General Assembly Special Session commitment on HIV. Ibu Nafsiah Mboi expressed appreciation for the continuing support of the UN to HIV in Indonesia, and requested this support be continued and intensified.
The Special Envoy will present her report on this mission to the United Nations Secretary General, and the UN Joint Programme on HIV/AIDS (UNAIDS). She looks forward to further dialogue with the government on emerging HIV issues in Indonesia, and continuing the support of the United Nations to Indonesia on this critical issue.
(wong, sumber: National AIDS Commission)



CafeNovel.com | Stigma dan Diskriminasi Terhadap Penderita HIV/AIDS (ODHA)

Karena keterkaitannya dengan perilaku yang mungkin dianggap tidak layak oleh banyak orang, infeksi HIV menjadi terstigma.
Orang yang hidup dengan virus itu sering menjadi korban diskriminasi dan pelanggaran hak-hak asasi manusia: banyak di antaranya yang dikeluarkan dari pekerjaannya atau dari rumahnya, ditolak oleh keluarga dan kawan-kawannya, dan beberapa bahkan dikucilkan serta diasingkan.
Stigma dan diskriminasi keduanya menjelma menjadi penghalang terbesar bagi penanganan efektif epidemi ini. Stigma dan diskriminasi membuat pemerintah tidak cukup berani untuk mengakui atau mengambil tindakan tepat waktu terhadap AIDS. Keduanya juga membuat orang takut mengetahui status HIV mereka. Stigma dan diskriminasi itu juga menghambat mereka yang mengetahui mereka terinfeksi dari membagi hasil diagnosanya, dan untuk kemudian mengambil tindakan guna melindungi orang lain dan mencari perawatan dan pengobatan bagi diri mereka sendiri.
Pengalaman mengajarkan bahwa keterlibatan yang kuat dari orang-orang yang hidup dengan HIV (ODHA) yang mendapatkan dukungan timbal balik dan suara di tingkat lokal dan nasional biasanya efektif dalam mengatasi stigma.
Terlebih lagi, adanya pengobatan menjadikan tugas ini menjadi lebih mudah: di mana ada harapan, orang menjadi tidak terlalu takut terhadap AIDS; mereka lebih terbuka dan berani menjalani tes HIV, untuk mengetahui status mereka dan mencari perawatan yang intensif sebagai tindak lanjut pengobatan serta pencegahan jika telah tertular.
(wong, sumber: UNAIDS, National AIDS Commission)



CafeNovel.com | Deklarasi Komitmen Penanggulangan HIV/AIDS

Melalui Deklarasi Komitmen tentang HIV/AIDS (Declaration of Commitment on HIV/AIDS) dan Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals) dunia telah menetapkan sejumlah komitmen, aksi, dan tujuan untuk menghentikan dan menekan balik penyebaran HIV.
Pada tahun 2001, para Kepala Negara dan Perwakilan Pemerintahan dari 189 negara untuk pertama kalinya berkumpul dalam Sidang Istimewa Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa membahas tentang HIV/AIDS. Mereka secara bulat mengadopsi Deklarasi Komitmen tentang HIV yang mengakui bahwa epidemi AIDS telah menjadi 'keadaan darurat global dan menjadi salah satu tantangan yang paling serius terhadap kehidupan dan martabat manusia'. Deklarasi Komitmen itu mencakup 10 prioritas, mulai dari upaya pencegahan, pengobatan, hingga masalah pendanaan. Deklarasi tersebut dirancang sebagai cetak-biru untuk mencapai Tujuan-tujuan Pembangunan Milenium guna menghentikan dan memulai upaya untuk menekan balik penyebaran HIV/AIDS sebelum tahun 2015.
Kedelapan Tujuan-tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) – yang mencakup upaya mengikis angka kemiskinan hingga separuhnya, sampai upaya penghentian penyebaran HIV/AIDS, dan penyediaan pendidikan dasar untuk semua, yang seluruh sasarannya harus dicapai sebelum tahun 2015 – menjadi cetak-biru yang disepakati oleh negara-negara di dunia dan lembaga-lembaga pembangunan terkemuka dunia.
(wong, sumber: National AIDS Commission)



CafeNovel.com | Lawan Diskriminasi dengan Cerpen

Para pengidap HIV/AIDS seolah tak cukup tersiksa dengan penyakit yang diderita, tapi masih harus 'melawan' dikriminasi dan pandangan sains dari lingkungannya. Mereka tak hanya merasa sendiri dan terkucilkan bahkan dicap sebagai racun dalam masyarakat.
Untunglah, masih ada orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang memiliki tekad dan kegigihan sekeras baja. Mereka merangkum diari, pengalaman, serta perjuangan melalui kumpulan cerpen 'Aku Kartini Bernyawa Sembilan' yang telah diluncurkan di Goethe House, kawasan Sam Ratulangi, Jakarta Pusat, Rabu (29/8/2006).
Rezerdia Adriana Kartini, 27, misalnya, mengaku sudah berulang diuji dalam kematian. Wanita kelahiran Jakarta, 21 April 1980 itu tertular AIDS dari suaminya, seorang pengguna narkoba suntik. Sebelumnya, ia telah terancam mati karena berbagai penyakit dan kecelakaan. Mulai demam tinggi, demam berdarah, jatuh dari lantai tiga, ditabrak motor, jatuh dari bus, hingga herpes.
Pengalaman Rezerdia dalam cerpen 'Aku Kartini Bernyawa Sembilan' kemudian dijadikan buku berjudul sama yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama. Ada sebelas cerpen lainnya yang ditulis delapan perempuan penderita HIV/AIDS. Siti Rokhimiatun menulis Mandul, Theresia Rao menulis Karamnya Kapal Miosnan, Luh Putu Ikha Widari menulis Istri, Tary menulis Abel Tak Pernah Tahu, dan masih ada beberapa karya lain.
Melengkapi tulisan cerpen tersebut, tujuh artikel karya tujuh penulis perempuan terkenal ikut dimuat. Mereka di antara Dewi Lestari, Djenar Maesa Ayu, Cok Sawitri, Oka Rusmini, dan Ayu Utami. Mereka ini menjadi pendamping bagi para perempuan penderita HIV/AIDS dalam program pelatihan penulisan kreatif yang diadakan UNAIDS (Badan PBB untuk Program Penanggulangan AIDS), Yayasan Spiritia, dan Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2006 lalu di Batam, Manado, Jayapura, Yogyakarta, Bandung, dan Denpasar.
"Lewat cerpen ini, saya ingin berbagi pengalaman hidup yang sangat berharga kepada masyarakat. Semoga buku ini menjadi pendobrak bagi orang-orang di luar sana yang memiliki ketakutan kepada pengidap HIV AIDS," ujar salah satu penulis, Puji Hastuti Husein. Puji ingin membuktikan bahwa pengidap ODHA tak selalu terbaring lemah di ranjang rumah sakit atau tampil kurus menakutkan. "Lewat buku ini, kami ingin buktikan kalau kami masih bisa tertawa," tambahnya.
Penulis lainnya, Luh Putu Ikha Widari mengaku masih banyak hal yang bisa dilakukan, walaupun mengidap HIV/AIDS. "Selain menulis cerpen, saya juga menjadi jurnalis di sebuah media tentang HIV/AIDS. Sekarang sudah saatnya masyarakat melihat sisi lain dari seorang ODHA," ujarnya.
Seperti yang diungkapkan Djenar Maesa Ayu, setiap orang, termasuk perempuan penderita HIV/AIDS, memiliki kemampuan menulis sehingga dapat membagi pengalamannya sekaligus menjadi terapi batin. "Keinginan keras untuk menulis dan kerja keras membuat mereka bisa menulis. Banyak di antara mereka yang sangat bersemangat membagi cerita kepada pembaca," ungkapnya.
Bila tidak ada penanggulangan serius, diprakirakan pada tahun 2020 jumlah penderita AIDS di Indonesia mencapai 1,9 juta orang.
(wong, bernadette, sumber: Antara, National AIDS Commission)



CafeNovel.com | ODHA di Bali Meningkat 30 Persen

ODHA atau orang dengan HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome) di Bali hingga awal Agustus 2007 lalu tercatat 4.041 orang, meningkat sekitar 30 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. "ODHA yang meningkat tajam itu, 40-50 persen akibat hubungan seks bebas, sisanya karena mengonsumsi narkoba dengan jarum suntik secara bersama-sama," kata Koordinator Pokja Humas, Informasi dan Advokasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali. dr. I Nyoman Mangku Karmaya di Denpasar.
Pada peluncuran buku tentang realita AIDS (Lentera) yang diterbitkan KPA Bali, ia mengatakan, penularan HIV/AIDS lewat hubungan seksual bebas menunjukkan peningkatan sangat signifikan. Oleh sebab itu penggunaan kondom dinilai sangat efektif dalam upaya mencegah penularan HIV/AIDS, disamping lebih waspada terhadap ancaman penyakit yang membuat hilangnya kekebalan daya tubuh. Bali sebagai daerah tujuan wisata dalam beberapa tahun belakangan 'diserbu' pekerja seks komersial. Sejumlah daerah di Indonesia menutup lokalisasi dan 'penghuninya' hijrah ke Bali.
"Diperkirakan pekerja seks komersial di Bali mencapai 3.000 orang, 10 persen di antaranya telah terinfeksi virus HIV/AIDS," kata Mangku Karmaya.
Selain itu juga ada pekerja seks secara terselubung yang bekerja di kafe dan tempat hiburan malam. Mereka itu jumlahnya diperkirakan lebih dari 6.000 orang, yang juga rentan menyebarkan virus mematikan tersebut. Karmaya menjelaskan, penggunaan kondom merupakan salah satu cara yang efektif dalam mencegah terjadinya penularan HIV/AIDS, disamping lebih waspada terhadap ancaman penyakit tersebut. "Jika penggunaan kondom pada hubungan seksual bebas mencapai 70-80 persen saja, akan mampu mengerem penularan virus HIV/AIDS yang kini dalam kondisi sangat mengkhawatirkan," ujar Mangku seraya menjelaskan, penggunaan kondom masih relatif rendah.
Penderita HIV/AIDS di Bali yang kondisinya semakin mengkhawatirkan, perlu mendapat perhatian dan penanganan dari berbagai pihak. "Sangat kita harapkan kesadaran setiap orang untuk menghindari perbuatan yang beresiko tinggi terhadap penularan penyakit membahayakan itu," harap Mangku Karmaya. Ia berharap lewat peluncuran buku tentang realita AIDS (Lentera) oleh KPA Bali dapat menjadi bahan edukasi dan informasi, guna mengajak masyarakat menghindari perbuatan beresiko tinggi terhadap hilangnya kekebalan daya tubuh.
Acara peluncuran buku setebal 250 halaman yang memuat 87 artikel dan laporan tentang HIV/AIDS itu dihadiri para penulis perempuan Indonesia seperti Dewi Lestari, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan beberapa penulis penderita ODHA. Buku tersebut tahap pertama tersebut dicetak 1.500 eksemplar, dan akan dijadikan bahan acuan dalam melakukan sosialisasi pencegahan penyakit berbahaya itu.
(wong, sumber: Antara, National AIDS Commission)



CafeNovel.com | Anak-anak dan AIDS

Dunia harus segera memperhitungkan dampak AIDS pada anak-anak, atau tidak akan lagi ada kesempatan untuk mencapai tujuan ke-6 dari Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) – yaitu menghentikan dan mulai menekan balik penyebaran penyakit tersebut pada tahun 2015. Kegagalan mencapai tujuan yang berkenaan dengan HIV/AIDS akan sangat berpengaruh terhadap peluang dunia untuk mencapai kemajuan dalam tujuan MDG lainnya. Penyakit ini terus saja mengacaukan upaya-upaya untuk mengurangi kelaparan dan kemiskinan, penyediaan pendidikan dasar bagi semua, dan mengurangi tingkat kematian anak dan meningkatkan kesehatan ibu.
Para pemimpin dunia, baik dari negara-negara industri maupun berkembang, telah berulang-ulang membuat komitmen untuk meningkatkan upaya-upaya mereka untuk memerangi penyebaran HIV/AIDS. Mereka mulai meningkatkan kepemimpinan politik dan sumber-sumber yang diperlukan untuk memerangi penyakit ini. Perkembangan terus berlangsung dalam memetakan jalur perjalanan pandemi ini di masa lalu dan untuk masa depan, untuk menyediakan perawatan antiretroviral secara gratis bagi mereka yang membutuhkannya, dan untuk memperluas cakupan pelayanan pencegahan.
Namun anak-anak masih saja kehilangan kesempatan. Setiap hari: Terdapat hampir 1.800 infeksi HIV baru yang menimpa anak-anak berusia di bawah 15 tahun, sebagian besar karena penularan dari ibu ke anak; 1.400 anak berusia di bawah 15 tahun meninggal karena penyakit yang berkaitan dengan AIDS; Lebih dari 6.000 orang muda berusia antara 15-24 tahun baru terkena infeksi HIV.
Setelah lebih dari 20 tahun: Kurang dari 10 persen jumlah perempuan hamil diberi pelayanan untuk mencegah penularan HIV ke balita mereka; Kurang dari 10 persen anak- anak yang telah menjadi yatim (piatu) atau menjadi rentan akibat AIDS menerima pelayanan atau dukungan umum; Kurang dari sepertiga perempuan muda berusia 15-24 tahun di sub-Sahara Afrika yang sepenuhnya memahami cara menghindari penyakit tersebut.
Jutaan anak-anak, remaja, dan orang-orang muda yang tinggal di lintasan pandemi ini berisiko terkena HIV/AIDS dan memerlukan perlindungan. AIDS menyebabkan redefinisi makna masa kanak-kanak bagi jutaan anak, mengekang mereka dari hak asasi mereka — untuk mendapatkan perhatian, cinta, dan kasih sayang dari orangtua; dari guru dan tokoh yang berpengaruh bagi perkembangan anak; untuk mendapatkan pendidikan dan pilihan masa depan; untuk mendapatkan perlindungan terhadap eksploitasi dan penganiayaan.
Dunia harus bertindak sekarang, secara gigih dan mendesak, untuk memastikan bahwa generasi anak-anak berikutnya terbebas dari AIDS. (effendy wongso, sumber: unicef, National AIDS Commission)

WRITE YOUR WORLD
Tulis dunia kamu lewat Write Your World – Kirim ke info@cafenovel.com buat dijadikan referensi dan acuan bagi pengembangan dunia yang lebih baik.





MEDIA PARTNERS


ADVERTISEMENT



Google

DONATION


Klik di Sini untuk Donasi
Click Here for Donation


WELCOME


Wednesday, 10 March 2010

Selamat datang di CafeNovel.com, Situs Sastra Populer Indonesia. Di sini Anda dapat membaca novel, cerpen, dan puisi secara online. CafeNovel.com merupakan situs sastra dan menampung tulisan nonhonor. Bagi yang memiliki bakat menulis atau mengarang, Anda dapat berpartisipasi menyumbangkan karya Anda di info@cafenovel.com. Terima kasih atas kunjungan Anda.


WRITE
YOUR
WORLD


Sebuah event dalam rangka antisipasi dan Stop Global Warming. Di sini Anda dapat mengemukakan pendapat atau keluhan tentang pemanasan global yang kian meresahkan. Lewat Write Your World suara Anda akan didengar oleh dunia, dan akan dijadikan referensi atau acuan bagi pengembangan dunia yang lebih baik. Kirim suara Anda ke info@cafenovel.com sebagai bagian dari bentuk kepedulian kita terhadap efek Global Warming.

MEDIA PARTNERS















OUR PARTNERS



cafenovel.multiply.com



www.cafenovel.com


myspace.com/cafenoveldotcom

www.cafenovel.hi5.com
cafenovel.wordpress.com